TANAH DATAR — Perhelatan Festival Bumi Minangkabau resmi dipastikan tetap berjalan di Kawasan Lapangan Cindua Mato, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat selama empat hari, mulai Kamis hingga Minggu (17–20 September 2026). Pihak panitia mengambil langkah penyesuaian agenda di lapangan lantaran wilayah setempat tengah diselimuti bencana kabut asap yang muncul mendadak dalam beberapa waktu terakhir.
Ketua Pelaksana Festival Bumi Minangkabau, Afrizal yang akrab disapa Ayah, menjelaskan bahwa keputusan untuk melanjutkan pelaksanaan acara diambil karena seluruh persiapan teknis maupun fisik telah rampung jauh sebelum kondisi udara memburuk.
“Terkait pelaksanaan kegiatan di saat kabut asap ini, sebenarnya ini sudah direncanakan sejak tahun 2025,” ujar Afrizal saat diwawancarai klik-kaba.id.
Ia mengungkapkan, proposal kegiatan sejatinya telah disetujui sejak tahun lalu, namun pemenuhan prosedur administrasi membuat jadwal bergeser ke pertengahan tahun 2026. Panitia bersama pihak terkait akhirnya menyepakati pertengahan September sebagai waktu pelaksanaan guna menghindari tumpang tindih dengan agenda budaya daerah lainnya.
“Bulan Juli berdekatan dengan Festival Minangkabau, jadi tidak mungkin. Kita atur jadwal hingga dapat kesepakatan di tanggal 17, 18, 19, dan 20 September 2026,” tuturnya.
Afrizal menambahkan, koordinasi lintas sektor dengan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) telah dirampungkan sejak awal September, saat kondisi kualitas udara masih aman. Seluruh alokasi anggaran dan pembelian kebutuhan logistik acara pun sudah berjalan penuh untuk tanggal tersebut.
“Cuma, yang bencana ini kan tiba-tiba datangnya, tidak kita rencanakan. Sementara persiapan kita sudah matang. Yang puncaknya (kabut asap) ini kan baru beberapa hari ini,” kata Afrizal.
Menyikapi edaran dan panduan keselamatan dari pemerintah daerah, panitia memutuskan mengambil jalan tengah dengan menghentikan sementara keterlibatan peserta usia sekolah guna melindungi kesehatan anak-anak dari paparan asap.
“Makanya kita ambil jalan tengahnya. Selama edaran berlaku, kita tidak melibatkan lomba-lomba untuk anak sekolah. Bukan hanya karena surat edaran, tapi memang mengingat kesehatan anak-anak,” tegasnya.
Penyesuaian ini berdampak pada penundaan sejumlah lomba tingkat pelajar pada hari-hari awal gelaran. Keikutsertaan para siswa baru akan dijadwalkan ulang pada hari terakhir festival dengan catatan kondisi cuaca dan jarak pandang telah membaik.
Selain membatasi aktivitas anak sekolah, panitia turut memperketat penerapan protokol kesehatan bagi setiap pengunjung yang datang ke lokasi acara.
“Saran bapak, panitia mengimbau pengunjung untuk taat dan mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker dan jangan terlalu lama di luar ruangan,” lanjut Afrizal.
Meski digelar di bawah bayang-bayang kabut asap, festival yang didanai melalui program Indonesia Raya dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia lewat komunitas Sanggar Sari Bunian ini tetap menyajikan khazanah budaya Minangkabau secara komprehensif.
Agenda kegiatan meliputi pameran, bazar, seni pertunjukan, randai, hingga orkestra tradisional Minangkabau. Salah satu acara utamanya yakni lomba meracik samba lado autentik yang melibatkan perwakilan PKK dari 75 nagari se-Kabupaten Tanah Datar, serta penampilan talenta musik lokal yang membawakan lagu-lagu Minang sepanjang gelaran berlangsung. (Red)
